BeritaEkonomiKesehatanPersyarikatan

Muhammadiyah Siapkan Pabrik Infus Raksasa, Target Operasi 2028

JAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah terus memperkuat kiprahnya di sektor kesehatan dengan menyiapkan pembangunan pabrik cairan infus skala besar. Proyek strategis ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028 sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian layanan kesehatan.
Pabrik tersebut akan dikelola melalui perusahaan baru, PT Suryavena Farma Indonesia, yang dibentuk untuk mengintegrasikan kebutuhan layanan kesehatan Muhammadiyah dari hulu hingga hilir.
Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia, Tatat Rahmita Utami, menjelaskan bahwa selama ini Muhammadiyah telah memiliki fondasi kuat di bidang kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk kebutuhan obat-obatan dan alat kesehatan, termasuk cairan infus, masih bergantung pada pihak eksternal.
“Jaringan layanan kesehatan Muhammadiyah sudah sangat besar, tetapi suplai bahan medis belum sepenuhnya mandiri. Ini yang ingin kami perkuat,” ujarnya.
Saat ini, Muhammadiyah tercatat mengelola sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Seiring pertumbuhan jumlah fasilitas kesehatan tersebut, kebutuhan terhadap cairan infus juga meningkat signifikan.
Selama dua tahun terakhir, produksi infus masih dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Namun, skema tersebut dinilai belum mampu menjamin stabilitas pasokan, terutama untuk memenuhi kebutuhan internal yang terus bertambah.
Sebagai langkah strategis, Muhammadiyah akan membangun pabrik infus sendiri di kawasan Karangploso, Malang. Lokasi ini dipilih karena dikenal sebagai salah satu pusat industri cairan infus nasional serta memiliki dukungan infrastruktur yang memadai.
Pabrik tersebut akan berdiri di atas lahan seluas 14 hektare yang telah melalui proses studi kelayakan, termasuk pengujian kualitas air sebagai bahan utama produksi. Pembangunan direncanakan segera dimulai, dengan target operasional pada akhir 2027 atau paling lambat awal 2028.
Kehadiran pabrik ini diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan internal jaringan kesehatan Muhammadiyah, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan industri farmasi nasional.
Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen Muhammadiyah dalam membangun ekosistem kesehatan yang mandiri, berkelanjutan, dan berorientasi pada pelayanan umat.
Sumber: Inilah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *