Mengakselerasi Kesadaran Belajar Murid di SD Unggulan Aisyiyah Bantul melalui Program ‘Sintesa’
SD Unggulan Aisyiyah (SDUA) Bantul, merupakan sekolah swasta di Bumi Satria yang adaptif dan berkembang pesat. Pada Tahun Pelajaran 2025/ 2026, sekolah ini mengelola 24 rombongan belajar (rombel) dengan 718 murid dari Kelas I hingga Kelas VI.
SD Unggulan Aisyiyah Bantul berupaya mewujudkan 8 (delapan) dimensi profil lulusan. Maka sejak awal tahun pelajaran, telah menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam melalui 3 (tiga) prinsip yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Prinsip berkesadaran penting sebagai pintu masuk pembelajaran yang bermakna dan menggembirakan. Strategi untuk mewujudkannya melalui Program “Sintesa” (Pembelajaran Asinkronus dan Tes Awal sebelum Sekolah), yang disusun dan dilaksanakan untuk memberi kontribusi positif pada prinsip pembelajaran berkesadaran.
Pembelajaran berkesadaran merupakan proses belajar, di mana siswa hadir secara utuh (fisik dan mental) dalam kegiatan belajar, sadar terhadap tujuan, dan memahami alasan di balik aktivitas yang dilakukan (Kemendikdasmen,2025).
Hasil diskusi dan wawancara kepala sekolah bersama para guru mengungkapkan bahwa murid – murid SD Unggulan Aisyiyah Bantul memiliki motivasi tinggi hadir ke sekolah. Namun yang menarik, tidak semuanya hadir di kelas dalam kondisi sadar akan belajar.
Para guru mengungkapkan, beberapa muridnya belum memiliki kesadaran belajar yang sebenarnya. Gejala yang nampak, murid tidak fokus mengikuti pembelajaran, memiliki kesibukan sendiri, dan secara berpasangan atau berkelompok berbicara sendiri bukan seputar topik pembelajaran.
Fakta itu perlu diperbaiki agar implementasi pendekatan pembelajaran mendalam optimal. Karena, pengalaman belajar hanya dapat diperoleh ketika murid memiliki kesadaran menjadi pembelajar yang aktif.
Pola belajar murid SD Unggulan Aisyiyah, menurut pengamatan saya belum sesuai yang diharapkan. Hal ini menyebabkan kesiapan belajar mereka rendah.
Padahal, untuk menerima dan memahami materi pembelajaran yang baru, membutuhkan dasar pengetahuan awal yang cukup. Maciejewski (2016), berpendapat bahwa jumlah dan kualitas pengetahuan awal secara positif memengaruhi baik pemerolehan pengetahuan, maupun keterampilan kognitif tingkat tinggi. Situasi itu menjelaskan bahwa pembelajaran berkesadaran merupakan pembelajaran dimana murid memiliki motivasi intrinsik, hadir sepenuhnya, dan fokus mengikuti proses pembelajaran di kelas. Hal ini dapat terjadi jika murid mengetahui tujuan pembelajaran, memiliki kemampuan awal yang dapat digunakan untuk dasar perencanaan pembelajaran, dan pada akhirnya terjadi perubahan tingkah laku berupa peningkatan prestasi belajar murid.
Tantangan Perubahan
Membentuk kesadaran belajar yang mandiri pada murid, merupakan tantangan besar bagi kepala sekolah dan guru di SD Unggulan Aisyiyah Bantul. Selaku kepala sekolah, penulis mengajak berdiskusi para guru dalam forum komunitas belajar sekolah, untuk mencari solusi atas situasi yang ada.
Kami perlu menata shaf, untuk bersama menjawab tantangan dalam: (1) mewujudkan kondisi minimal 75% (atau lebih) murid di SD Unggulan Aisyiyah Bantul memiliki kesadaran belajar, (2) memastikan bahwa murid memiliki pengetahuan/pemahaman dasar yang cukup tentang topik yang akan dipelajari, (3) mendorong perubahan mendasar para guru dalam memulai dan merencanakan pembelajaran, yaitu dari upaya intervensi terhadap pengetahuan awal murid, bukan hanya perbaikan pada metode mengajar di kelas.
Aksi untuk Perubahan
Langkah yang diambil untuk mewujudkan perubahan ini melalui Program “Sintesa” (Pembelajaran Asinkronus dan Tes Awal sebelum Sekolah). Program ini ini menawarkan solusi efektif untuk menciptakan lingkungan belajar pra-pembelajaran dengan fleksibilitas waktu dan tempat.
Pembelajaran asinkronus adalah metode pembelajaran daring yang tidak mengharuskan siswa dan pengajar untuk berada di tempat dan waktu yang sama secara bersamaan. Guru yang memilih dan menyusun materi pembelajaran dengan konten jelas, ringkas, dan mudah dipahami.
Pada kegiatan pembelajaran asinkronus ini, secara serentak guru menyiapkan link video pembelajaran dengan durasi antara 3-5 menit dan gambar. Video dan gambar disajikan untuk menciptakan suasana belajar yang menarik dan interaktif, agar terjadi komunikasi antara murid dengan materi.
Guru menyiapkan tugas-tugas mandiri, kuis, atau latihan soal yang akan mengukur pemahaman murid. Pada kegiatan pembelajaran asinkronus ini, tugas dan kuis serta soal disajikan dalam bentuk link google form.
Kegiatan Pembelajaran Asinkronus dijadwalkan H-1 sebelum pembelajaran di kelas, dengan tujuan mempersiapkan otak untuk belajar dan mengatasi senjangan pengetahuan awal murid. Murid membaca, menonton, atau mendengarkan materi sesuai dengan kecepatan belajar mereka sendiri.
Pada kegiatan asinkronus murid memperoleh lembar kerja siswa yang berisi identitas mata pelajaran, tujuan pembelajaran, pengantar, aktivitas pengamatan link video materi, latihan pemahaman, refleksi berupa tanggapan murid terhadap materi dalam video atau berupa tugas kontekstual.
Penyertaan identitas mata pelajaran dan tujuan pembelajaran secara eksplisit. Hal ini memberikan manfaat bagi murid untuk berubah dari belajar pasif ke belajar berkesadaran.
Pengamatan Link video merupakan interaksi antara murid dengan sumber belajar. Hal ini memastikan bahwa pengetahuan dasar telah ditanamkan sebelum pembelajaran di kelas, sehingga mereka hadir di sekolah bukan dari “titik nol”. Latihan Pemahaman (Link Penilaian Formatif) memberi umpan balik instan kepada murid tentang area mana yang sudah mereka kuasai dan mana yang masih perlu dikaji ulang.
Perubahan yang Tampak
Aktivitas kegiatan selama pembelajaran asinkronus mampu menjadikan siswa memiliki kesadaran belajar yang sebenarnya. Pembelajaran asinkronus mampu menghadirkan pola belajar murid SD Unggulan Aisyiyah Bantul dari kurang terstruktur menjadi lebih prosedural.
Dengan demikian, murid mengetahui tujuan pembelajaran, memahami lingkup materi, mengerjakan tugas, terjadwal, memanfaatkan perangkat yang dimiliki, dan terjadi kolaborasi dengan orang tua.
Format belajar yang tidak terikat waktu dan tempat, menjadikan murid dapat bertanggungjawab penuh atas kegiatan belajarnya. Walhasil, murid terbiasa bertanggungjawab mulai dari mengatur waktu mengerjakan, mengambil inisiatif untuk mengakses materi dan mencari bantuan, hingga secara proaktif mengatasi hambatan tanpa pengawasan tatap muka langsung dari guru.
Kolaborasi di antara elemen pusat Pendidikan juga terjalin baik. Sekolah yang menyusun program pembelajaran asinkronus, orang tua melakukan pantauan, lingkungan masyarakat sebagai tempat akses, dan pemanfaatan digital pada pembelajaran asinkronus dan tes awal sebelum sekolah.
Hasil tes awal dalam praktik baik ini merupakan indikator kesiapan belajar murid. Hal ini sesuai dengan pernyataan Arikunto (2013), bahwa tes awal bertujuan untuk mengetahui kondisi awal dan kesiapan belajar murid.
Implementasi program “Sintesa” (Pembelajaran Asinkronus dan Tes Awal sebelum Sekolah) di SD Unggulan Aisyiyah Bantul, terbukti efektif sebagai solusi inovatif mengatasi rendahnya kesadaran belajar murid dan menciptakan pengetahuan awal yang memadai sebelum proses pembelajaran di kelas.
Program ini berhasil mewujudkan kemandirian belajar siswa, selaras dengan empat pilar pendidikan, dan berdampak signifikan pada peningkatan prestasi belajar murid, mengubah mereka dari pembelajar pasif menjadi pembelajar yang berkesadaran. (Suwardi, M.Pd – Kepala SD Unggulan Aisyiyah Bantul). (*)

