Pak Jazir, “Guru Besar Terapan” Akuntansi Sektor Publik
Indra Bastian, dosen Akuntansi Sektor Publik yang pernah mengajar penulis di Universitas Gadjah Mada (UGM), sejak lama kerap menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai contoh nyata entitas sektor publik yang berhasil. Menurutnya, kepercayaan masyarakat yang dibangun oleh Takmir Masjid Jogokariyan membuat setiap aktivitas dan dinamika kegiatan masjid selalu mendapatkan dukungan luas dari umat.
KRJOGJA.com — Indra Bastian, dosen Akuntansi Sektor Publik yang pernah mengajar penulis di Universitas Gadjah Mada (UGM), sejak lama kerap menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai contoh nyata entitas sektor publik yang berhasil. Menurutnya, kepercayaan masyarakat yang dibangun oleh Takmir Masjid Jogokariyan membuat setiap aktivitas dan dinamika kegiatan masjid selalu mendapatkan dukungan luas dari umat.
Masjid merupakan entitas sektor publik yang hadir di tengah masyarakat—didirikan, dibiayai, dimanfaatkan, serta diberdayakan oleh dan untuk masyarakat. Peran masjid pun sangat luas, mencakup aspek ibadah, sosial, pendidikan, ekonomi, kemasyarakatan, bahkan kontribusi terhadap ketahanan sosial dan keamanan.
Sebagai entitas sektor publik, keberlangsungan dan kemakmuran masjid sangat bergantung pada dukungan masyarakat. Sebaliknya, pengelolaan masjid yang baik memungkinkan masjid berfungsi optimal sebagai pusat keunggulan, pembinaan, dan pemberdayaan umat.
Takmir Masjid Jogokariyan tampak memahami secara mendalam kondisi dan persoalan masyarakat sekitarnya, sehingga mampu mengelola tantangan menjadi peluang. Pendekatan yang inklusif kepada seluruh lapisan masyarakat dilakukan dengan menjadikan mereka sebagai jamaah potensial yang dibina dan diberdayakan.
Keberhasilan Masjid Jogokariyan tidak lepas dari penerapan prinsip manajemen sektor publik yang baik oleh para pengelolanya. Layanan masjid diberikan secara adil dan optimal tanpa diskriminasi, sehingga masyarakat sebagai pengguna utama masjid merasa nyaman dan dilayani dengan baik.
Pelayanan yang adil dan berkualitas ini menjadi kekuatan utama Masjid Jogokariyan dalam merangkul umat dengan latar belakang yang beragam. Masjid ini menampilkan wajah Islam yang sejuk, terbuka, dan mampu diterima oleh seluruh kalangan.
Bahkan masyarakat setempat yang sebelumnya memiliki latar belakang ideologis dan keagamaan berbeda—termasuk yang abangan maupun eks-komunis—merasa nyaman bergabung dalam komunitas masjid tanpa beban masa lalu. Secara perlahan, Masjid Jogokariyan pun berkontribusi membentuk lingkungan kampung yang semakin religius.
Kepercayaan publik terhadap entitas sektor publik akan meningkat apabila mampu memberikan solusi dan pemberdayaan bagi masyarakat. Perkembangan Masjid Jogokariyan menunjukkan kemampuannya menjawab kebutuhan umat dengan mempertemukan mereka yang membutuhkan bantuan dan mereka yang memiliki sumber daya serta kompetensi untuk memberdayakan sesama. Dengan demikian, ajakan untuk memakmurkan masjid menjadi lebih bermakna karena umat merasakan langsung manfaatnya.
Meraih Kepercayaan Umat
Salah satu prasyarat utama keberhasilan entitas sektor publik adalah tata kelola yang baik dan akuntabel. Masjid Jogokariyan sebagai contoh praktik terbaik dikelola oleh takmir yang kompeten dan dipercaya masyarakat.
Pendanaan entitas sektor publik pada dasarnya bersumber dari masyarakat. Dengan akuntabilitas yang terjaga, seluruh program dan layanan Masjid Jogokariyan senantiasa memperoleh dukungan pendanaan dari umat.
Kisah kas masjid yang sering kali hampir habis karena digunakan untuk kegiatan dan disalurkan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan publik. Hal ini dimungkinkan karena adanya laporan keuangan yang transparan dan dapat dipercaya.
Tata kelola yang akuntabel menumbuhkan iklim kepercayaan, sehingga setiap kebutuhan pendanaan masjid selalu mendapatkan respons positif dari umat. Masyarakat yakin bahwa dana mereka dikelola dengan amanah dan segera dimanfaatkan, sehingga menumbuhkan kegembiraan dalam berinfak, bersedekah, dan berwakaf. Inilah penerapan nyata konsep manajemen sektor publik yang menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai rujukan pengelolaan masjid.
Hal menarik lainnya, menurut Indra Bastian, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap masjid juga tercermin dari jumlah jamaah aktif, khususnya jamaah shalat lima waktu dan shalat Subuh. Masjid Jogokariyan dikenal memiliki jamaah Subuh yang relatif besar—sekitar 25 persen dari jumlah jamaah shalat Jumat—yang menjadi indikator kepercayaan publik yang nyata.
Kepercayaan umat, lanjutnya, tidak hanya dibangun melalui tata kelola dan laporan keuangan, tetapi juga melalui kualitas pelayanan ibadah. Jamaah merasa yakin karena masjid menyediakan imam yang fasih, berilmu, dan berakhlak mulia, sehingga ibadah dapat dijalankan dengan khusyuk.
Dengan kata lain, umat percaya bahwa beribadah di Masjid Jogokariyan memberikan ketenangan dan kualitas spiritual yang tinggi. Jika tidak demikian, jamaah akan mencari masjid lain.
Apa yang disampaikan Indra Bastian di ruang kelas menjadi jembatan antara teori akuntansi sektor publik dengan praktik nyata yang diterapkan di Masjid Jogokariyan. Meski kini beliau telah menjadi guru besar akuntansi di UGM, praktik terbaik pengelolaan entitas sektor publik justru tampak nyata di Kampus Jogokariyan.
Sosok yang layak disebut sebagai “guru besar terapan” akuntansi sektor publik adalah almarhum KH Muhammad Jazir ASP, yang telah mewariskan teladan nyata pengelolaan masjid sebagai entitas sektor publik yang sukses. Semoga amal jariyah beliau terus mengalir tanpa henti.
Para akademisi dan dosen akuntansi sektor publik dari berbagai penjuru dunia kiranya dapat berkunjung ke Masjid Jogokariyan saat berada di Yogyakarta, untuk menyaksikan langsung praktik baik pengelolaan entitas sektor publik sebagaimana yang selama ini diajarkan di bangku kuliah. (Yudha Kurniawan, Pelayan Masyarakat di Kemendikdasmen BPMP DIY)
sumber : krjogja.com

